Fimela.com, Jakarta Matahari baru saja terbit dari Timur, sementara jemari lincah wanita berkerudung biru itu sibuk merobek sachet kopi dan susu nan tersusun rapi di gerobak motornya. Air panas dari termosnya terus mengalir, disusul racikan minuman hangat nan dia siapkan dengan telaten untuk setiap pelanggan. Dialah Siti Badriyah, nan cekatan mengantarkan pesanan dengan senyum ramah.
Siti terlihat bahagia. Mata berbinar. Senyum di bibir terus mengembang. Satu per satu pembeli terus berdatangan. Pagi itu dagangan kopi keliling dan makanannya di tapal pemisah Indonesia dengan Papua Nugini, laku manis.
Walau hanya berprofesi sebagai 'starling' alias penjual kopi keliling, bisa dibilang Siti cukup sukses di sana. Bayangkan, omzetnya saja mencapai Rp2 juta saban hari. Kalau dikalikan sebulan, berfaedah puluhan juta omzetnya.
"Perputaran duit di sini lebih bagus dibanding kampung saya di Jawa. Di sini penghasilannya lebih bagus," cerita Siti sudah tinggal di area perbatasan Papua sejak umur 7 tahun.
Sejak tahun 1982, Siti mengaku orang tuanya mengikuti program transmigrasi dari Banyuwangi ke Papua. Dan di wilayah tapal pemisah itu, menjadi tempat bagi Siti meraup rezeki.
Menurut Siti, pesatnya perputaran duit di wilayah tersebut tak lepas dari adanya pembangunan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw, Muara Tami, Kota Jayapura. Seiring dengan PLBN nan telah berdiri mewah nan megah, aktivitas ekonomi juga terus berkembang di sana.
Dua tahun lalu, kata Siti mengenang, sebelum PLBN diresmikan pada 2017, pendapatannya paling banter Rp1 juta per hari. Namun sekarang, omzetnya meningkat 2 kali lipat.
Tak heran, pengguna nan dimiliki Siti bukan hanya orang-orang Indonesia, tapi juga dari negara sebelah, Papua Nugini. Siti melayani pembayaran baik dengan rupiah dan kina, mata duit Papua Nugini.
Siti menjual segelas kopi seharga Rp10 ribu untuk orang Indonesia dan 3 kina untuk Papua Nugini. Sementara untuk nasi dengan beragam lauk seperti ayam, ikan, serta telur, dihargai sekitar Rp20.000 dan 5 kina. Asal tahu saja, 1 kina kira-kira senilai Rp3.500-4.000, tapi tergantung dari nilai kurs nan berlaku.
Apa nan dilakukan pemerintahan Presiden Joko Widodo dalam upaya pembangunan wilayah perbatasan dari Pos Lintas Perbatasan, serta pasar di sekitarnya, sangat dirasakan betul manfaatnya oleh Siti dan penduduk lainnya di tapal batas.
"Sekarang saja sudah alhamdulillah sudah bagus semua, sekarang juga kan lagi dibangun jembatan Holtekamp itu, jika dibangun terus ya kita penduduk sini pasti senang," ujar Siti.
Hal serupa juga dirasakan Rasmi, salah satu pedagang di pasar nan letaknya 500 meter dari PLBN Skouw. Selama 10 tahun, Rasmi setiap hari pulang-pergi Abepura-Skouw untuk berjualan.
"Alhamdulillah, di sini menguntungkan, saya bisa makan dan menyekolahkan anak," ujar Rasmi nan merupakan perantau asal Makassar, Sulawesi Selatan.
Sejak pos lintas pemisah diperbaiki, visitor pasar pun bertambah ramai. Menurut dia, Warga PNG nan berbelanja ke Indonesia biasa datang di hari Selasa, Kamis dan Sabtu. Biasanya mereka membeli sembako, karpet-karpet, jaring dan lain-lain.
Memutar Ekonomi di Perbatasan Negeri
Saat peresmian PLBN Skouw di 2017, Presiden Joko Widodo sudah berpesan tegas, kehadiran pos perbatasan nan diperbaiki ini kudu memberikan pengaruh nyata bagi kesejahteraan masyarakat perbatasan.
"Sejak hari pertama saya dilantik, saya menyampaikan, pemerintah sudah jelas menyatakan bahwa daerah-daerah perbatasan tidak boleh dilupakan lantaran merupakan beranda-beranda terdepan Indonesia. Seperti di mana kita berada sekarang ini, di Skouw, kudu menjadi kebanggaan kita semuanya, kebanggaan masyarakat Papua, dan kebanggaan Indonesia," ujarnya
Sehingga, kata Jokowi, keberadaan PLBN dapat berfaedah sebagai sentra ekonomi, sekaligus menghilangkan praktik penyelundupan di wilayah perbatasan.
"Saya minta juga kelak agar ada pembinaan sehingga barang-barang nan dijual itu jangan hanya itu-itu saja, dikembangkan. Tidak hanya urusan sembako dan garmen, nan lain-lain juga seperti elektronik misalnya," ucapnya.
Kawasan PLBN Skouw mempunyai luas 10,7 Ha, dibangun sejak Desember 2015 hingga November 2016 oleh kontraktor PT. Nindya Karya (Persero) dengan anggaran Rp165,9 miliar.
PLBN ini dapat ditempuh melalui perjalanan darat sekitar 90 menit dari Kota Jayapura. Kondisi jalan nasional sepanjang 69 Km sekarang dapat dilalui dalam kondisi bagus.
Desain PLBN Skouw mengusung budaya lokal Papua. Desainnya mengadaptasi corak gedung unik Rumah Tangfa, rumah pesisir di wilayah Skouw, nan mempunyai genting dengan buatan perisai dan dua ruang panjang untuk masyarakat berkumpul.
Makin terlihat elok dengan ada penggunaan ornamen lokal, serta penerapan prinsip-prinsip gedung hijau (green building). Keren!
PLBN didesain bukan hanya untuk pelayanan lintas pemisah negara semata. Tetapi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di perbatasan negara.
Selain jasa pelintas pemisah di Zona inti, juga dibangun area penunjang nan dilengkapi pasar wisata, jasa perbankan, wisma indonesia, serta akomodasi jasa publik lainnya.
Perputaran Duit Rp3 Miliar
Pasar dan pusat oleh-oleh di PLBN Skouw nan berdiri atas lahan seluas 3.600 m2 dengan total 506 kios, merupakan perwujudan Inpres Nomor 1 Tahun 2021 tentang Percepatan Pembangunan Ekonomi pada Kawasan Negara di Aruk, Motaain dan Skouw.
Berdasarkan info nan ada di Satuan Tugas (Satgas) Pengamanan Perbatasan (Pamtas) RI-PNG Yonif 122 Tombak Sakti sebagai pos pertama sebelum masuk ke area PLBN Terpadu Skouw ini, tercatat di luar hari pasar setelah pembaharuan PLBN selesai, visitor mencapai 300-500, apalagi di hari libur tembus hingga di atas 1.500 pengunjung.
Menurut info Bank Indonesia perwakilan Provinsi Papua pada 2018, setiap harinya terdapat perputaran duit senilai Rp3 miliar di Pasar Skouw, yang sekarang menjadi destinasi favorit para pelintas pemisah asal Papua Nugini untuk berbelanja kebutuhan pokok.
Banyak Hidden Gem
PLBN Skouw tak hanya mempunyai kegunaan utama sebagai lintas penyeberangan, tapi juga jadi destinasi unik berwisata. Bahkan jadi tempat swafoto namalain selfie orang-orang perbatasan dua negara.
Banyak spot-spot foto menarik di sana nan dipadukan dengan ornamen unik budaya lokal serta keasrian lingkungannya.
"Jadi sebenarnya PLBN ini juga menjadi destinasi wisata," ujar Sekretaris Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP), Zudan Arif Fakrulloh.
Di perbatasan Skouw, masyarakat dapat menikmati kuliner unik Papua Nugini. Seperti daging domba, sosis sebesar singkong, pisang goreng dan minuman kaleng lokal.
Wisatawan juga bisa mengunjungi hidden gem, ialah Kampung Harapan, desa budaya nan ada dekat perbatasan. Pemandangannya juara banget! kalian bakal disuguhkan hamparan sawah, perbukitan dan sungai.
Belum lagi keelokan Air Terjun Sroba nan mempunyai ketinggian sekitar 50 meter dan dikelilingi rimba tropis nan hijau dan lebat. Untuk mencapainya, visitor kudu singgah di Kampung Harapan, lampau melangkah sekitar 30 menit untuk sampai ke lokasi.
Atau bisa juga singgah ke Danau Maribu. Punya keelokan alam nan luar biasa. Airnya bening dan pemandangan pegunungan nan hijau. Jaraknya sekitar 2 kilometer dari PLBN Skouw.
Guna menggairahkan visitor di perbatasan, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menghidupkan kembali Festival Cross Border di Jayapura.
"Nantinya bakal kita sajikan aktivitas seni, budaya, musik, movie sampai lari," ujar Menteri Sandiaga Uno kala melakukan kunjungan di PLBN Skouw.
Sandiaga menargetkan sebanyak 2.000 visitor mancanegara bakal datang dalam pagelaran itu.
"Saya mau kembalikan 1.500 pelintas pemisah setiap hari melintas di PLBN ini. Itu adalah catatan terbaik nan bakal kita terus tingkatkan. Lalu kita targetkan dalam Cross Border diikuti sebanyak 2.000 peserta visitor mancanegara," paparnya.
Untuk mengoptimalkannya, maka ke depannya bakal dimudahkan dari sisi visa kehadiran dengan memberikannya free. Lalu program imajinatif nan ada di wilayah PLBN bakal dikolaborasikan dengan Papua Youth Creative Hub (PYCH) nan sudah diresmikan Presiden Jokowi.
Follow Official WA Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.
Gloria Trivena May Ary
Author